Agil Gibran proposal

 

LAPORAN MODIFIKASI KEBUTUHAN PESERTA DIDIK DIKELAS IX C MTS



NEGERI 2 MAJENE.

“PEMBELAJARAN AUDIO VISUL”

Agil Gibran | Pendidikan Agama Islam

Nim: 10156122066

Sekolah Tinggi Agama Islam Negri Majene (STAIN)

A. Latar Beiakang

penelitian ini berfokus pada MTs Negeri 2 Majene, sebuah lembaga pendidikan menengah pertama yang berada di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Sebagai salah satu madrasah tsanawiyah yang memiliki misi untuk memberikan pendidikan agama dan pengetahuan umum kepada siswa, MTs Negeri 2 Majene terus berupaya menyesuaikan diri denganberbagai kebijakan pendidikan nasional. Hal ini terlihat dari penerapan Kurikulum Merdeka yang bertujuan untuk memberikan pendidikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan, minat, dan bakat siswa.

MTs Negeri 2 Majene telah mulai mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan yang fleksibel, yang memungkinkan siswa untuk memiliki pengalaman belajar yang lebih personal dan relevan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penyediaan mata pelajaran berbasis proyek dan peminatan, yang dirancang untuk menumbuhkan kemandirian belajar dan kreativitas siswa. Selain itu, guru-guru di madrasah ini dilatih untuk menerapkan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa, seperti pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan pembelajaran diferensiasi.

MTs Negeri 2 Majene dipilih sebagai lokasi penelitian ini karena institusi ini menunjukkan komitmen kuat dalam menerapkan Kurikulum Merdeka dengan fokus pada kebutuhan siswa. Sebagai salah satu madrasah terkemuka di Kabupaten Majene, MTs Negeri 2 Majene dianggap representatif dalam menggambarkan upaya sekolah/madrasah untuk menyesuaikan kurikulum dengan kondisi dan karakteristik siswa di daerah tersebut.




B. Metode Pengumpulan Data



Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk secara sistematis dan akurat mengamati permasalahan dengan berdasarkan pada sudut pandang atau kerangka berpikir tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan secara akurat dan sistematis suatu masalah, situasi, atau fenomena. Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan,mengolah,dan menganalisis data dari responden atau informan dengan standar pengukuran yang seragam. Metode dalam penilitian ini meliputi teknik-teknik berikut ini:

1. Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain. Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai berbagai proses biologis dan psikologis. Pengamatan ini dilakukan secara langsung dikelas mata pelajaran fiqih,selama sesi pembelajaran, yang mencakup evaluasi suasana kelas, respon mahasiswa terhadap materi 

pembelajaran,serta aspek-aspek terkait penelitian dan dekskrisi secara rinci tentang kebutuhan asesmen formatif siswa mata pelajaran fiqih.

2. Wawancara

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data digunakan apabila ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil. Wawancara dalam studi ini dilakukan kepada guru mata pelajaran fiqih serta siswa yang mengikuti proses pembelajaran fiqih. Tujuannya supaya peneliti mampu melihat kebutuhan asesmen formatif siswa kelas VII B pada mata pelajaran fiqih.

3. Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk menyelidiki benda-benda yang tertulis seperti buku, majalah, dokumen. Sumber-sumber yang tertulis, gambaran, lisan yang mampu membantu peneliti untuk merampungkan data-data spesifik. Dokumentasi dilakukan terhahadap kebutuhan asesmen formatif siswa pada




mata pelajaran fiqih, untuk membantu data-data seperti sumber-sumber



tertulis maupun tidak tertulis dalam kebutuhan asesmen formatif siswa untuk mengukur sampai dimana kemampuan siswa pada mata pelajaran fiqih.

4. Proses pengumpulan data yang digunakan

Proses pengumpulan data yang di gunkan adalah Peneliti melakukan wawancara dengan guru (Ahmad Mambani,S.Pd.I) guru mapel fiqih dan melakukan observasi selama proses pembelajaran di kelas IX C yang berjumlah 23 siswa. Wawancara berlangsung sekitar 5-7 menit, dengan menggunakan rekaman audio proses wawancara berlangsung di di ruang kelas.kemudian hasil observasi tersebut di catat dalam buku , catatan ini mencakup interaksi, ekspresi, dan situasi kelas selama pembelajaran berlangsung.

Peneliti melakukan triangulasi data dengan membandingkan hasil wawancara, Observasi, dan informasi yang di berikan oleh narasumber guru mapel fiqih kelas IX C MTS Negeri 2 Majene terkait dengan kebutuhan siswa tersebut. Selain itu, beberapa guru diajak diskusi untuk mengklarifikasi informasi yang tidak jelas.

Jumlah responden yang terlibat dalam penelitian atau survei ini melibatkan 24 responden yaitu guru dan siswa, Latar belakang responden yang terlibat dalam penelitian ini sebagai berikut;

• Usia : 13-14 tahun, 40-48 tahun, dll.

• Jenis kelamin : proporsi laki-laki dan perempuan

• Pendidikan : SMP Sederajat, Sarjana.

• Pekerjaan : Pelajar, guru.

Dari 19 responden yang berpartisipasi dalam survey ini, 70% adalah perempuan dan 30% laki-laki. Sebagian besar responden berusia antara 13-14 tahun, dengan 90% sedang menempuh Pendidikan sekolah menengah pertama/Sederajat dan 10% memiliki gelar sarjana. Sebanyak 100%




responden berasal dari daerah pedesaan.



Sebelum pengumpulan data dimulai responden diberitahu terlebih dahulu tentang tujuan survei yang akan peneliti lakukan dan diberikan kesempatan untuk bertanya sebelum memberikan persetujuan mereka secara tulisan atau lisan tanpa paksaan dan tekanan. Kemudian dalam konteks pengumpulan data, peneliti memastikan semua informasi, data, dan identitas yang diberikan oleh responden akan dijaga kerahasiannya dan hanya digunakan untuk tujuan penelitian.




C. Temuan Dan Analisis Kebutuhan Pembelajaran



Hasil temuan menunjukkan bahwa siswa di MTs Negeri 2 Majene memiliki kebutuhan pembelajaran berbasis audio-visual yang mendesak. Hal ini berdasarkan hasil survei dan wawancara dengan siswa dan guru, yang mengungkapkan bahwa metode pembelajaran konvensional seperti ceramah dan teks saja kurang efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Berikut adalah deskripsi temuan dan analisisnya:

1. Preferensi Siswa terhadap Media Audio-Visual

o Sebagian besar siswa merasa lebih mudah memahami materi ketika disertai dengan visualisasi seperti video, animasi, atau infografis.

o Media berbasis audio, seperti rekaman penjelasan materi, juga membantu siswa yang memiliki kesulitan dalam membaca.

2. Kendala yang Dihadapi

o Keterbatasan sarana dan prasarana, seperti minimnya proyektor, perangkat komputer, dan akses internet di kelas.

o Kurangnya bahan ajar berbasis audio-visual yang relevan dan sesuai dengan kurikulum.

3. Pengaruh pada Motivasi Belajar

o Siswa menunjukkan antusiasme lebih tinggi terhadap pembelajaran berbasis audio-visual.

o Pendekatan ini juga meningkatkan partisipasi siswa yang cenderung pasif dalam pembelajaran konvensional.

4. Strategi Pengembangan

o Perlu pengadaan alat seperti proyektor, speaker, dan komputer untuk mendukung pembelajaran.

o Pelatihan guru dalam merancang dan memanfaatkan bahan ajar berbasis audio-visual.




o Penyediaan akses internet untuk menunjang penggunaan konten



pembelajaran online.

Dengan fokus pada pembelajaran berbasis audio-visual, MTs Negeri 2 Majene dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar lebih efektif.

D. Saran dan rekomendasi

Berikut adalah beberapa saran untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran berbasis audio-visual di MTs Negeri 2 Majene:

1. Pengadaan Sarana dan Prasarana

 ●Alat Pendukung Pembelajaran: 

  Sekolah dapat memprioritaskan pengadaan perangkat seperti proyektor, laptop, layar interaktif, dan speaker. Jika anggaran 

  terbatas, alat tersebut dapat dialokasikan secara bergilir antar kelas.

●AksesInternet: 

Penyediaan akses internet yang stabil akan mempermudah penggunaan sumber daya pembelajaran berbasis audio-visual, seperti video pembelajaran atau aplikasi edukasi daring.

2. Pengembangan Materi Pembelajaran Audio-Visual

 ● Pembuatan Konten Lokal: 

  Guru dapat bekerja sama untuk membuat video, presentasi, atau podcast pembelajaran sesuai dengan kurikulum. Konten lokal ini bisa lebih relevan dengan kebutuhan siswa.

● Pemanfaatan Sumber Daya yang Sudah Ada:



Manfaatkan platform edukasi gratis seperti YouTube, Ruangguru, atau Khan Academy yang menyediakan banyak konten audio-visual berkualitas.

3. Pelatihan Guru

 ● Berikan pelatihan kepada guru untuk meningkatkan keterampilan dalam: 

    o Menggunakan teknologi pembelajaran seperti aplikasi edit video atau software presentasi interaktif.

o Mendesain materi pembelajaran yang menarik secara visual.

● Dorong penggunaan strategi blended learning (kombinasi metode daring dan luring).

4. Kolaborasi dengan Pihak Luar

 ● Pemerintah dan Donatur: 

  Ajukan bantuan kepada pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, atau donatur untuk mendukung pengadaan alat dan infrastruktur.

● Kemitraan dengan Universita atau Lembaga Teknologi: 

 Sekolah dapat bekerja sama dengan universitas atau lembaga lain yang memiliki keahlian dalam produksi konten pembelajaran audio- visual.

5. Monitoring dan Evaluasi

 ● Lakukan evaluasi berkala untuk memastikan pembelajaran berbasis audio-visual berjalan efektif.

● Melibatkan siswa dalam memberikan umpan balik tentang media pembelajaran yang digunakan.

Dengan melaksanakan langkah-langkah ini, kebutuhan pembelajaran audio-



visual dapat terpenuhi, sehingga kualitas pendidikan di MTs Negeri 2 Majene

meningkat dan lebih relevan dengan era digital.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

jari