KESEHATAN MENTAL DALAM AL-QUR’AN

                                                       RESKI
                                      
reskisalukayu@gmail.com

             Sekolah Tinggi Agama Islam Negri Majene {STAIN} Majene

Abstrac:

This paper discusses the importance of mental health in the face of rapid social change due to modernization and technology. Mental health is defined as an individual's well-being of mind, feelings, and behaviors that allow them to manage stress, interact healthily, and make wise decisions. In this context, the Quran is considered a guide to maintain mental health by offering relevant and in-depth solutions. This study uses the thematic interpretation method to analyze mental health concepts in the Quran, showing that religion has an important role as a therapy and prevention of mental disorders.

Abstrak:

Tulisan ini membahas pentingnya kesehatan mental dalam menghadapi perubahan sosial yang cepat akibat modernisasi dan teknologi. Kesehatan mental didefinisikan sebagai kondisi kesejahteraan pikiran, perasaan, dan perilaku individu yang memungkinkan mereka mengelola stres, berinteraksi secara sehat, dan membuat keputusan bijak. Dalam konteks ini, Al-Quran dianggap sebagai panduan untuk menjaga kesehatan mental dengan menawarkan solusi-solusi yang relevan dan mendalam. Penelitian ini menggunakan metode tafsir tematik untuk menganalisis konsep-konsep kesehatan mental dalam Al-Quran, menunjukkan bahwa agama memiliki peran penting sebagai terapi dan pencegahan gangguan jiwa.                                   

Kata kunci:  Kesehatan mental, Al-Quran, adaptasi sosial, stres, penyesuaian diri

PENDAHULUAN

Derasnya arus perubahan sosial akibat modernisasi dan kemajuan teknologi menuntut masyarakat untuk terus beradaptasi. Ketidakmampuan mengikuti ritme perubahan ini dapat memicu stres berkepanjangan. Stres yang tidak terkelola dengan baik dapat mengganggu keseimbangan kesehatan fisik dan mental individu. Kesehatan fisik yang terganggu dapat bermanifestasi dalam berbagai penyakit. Gangguan mental dapat muncul dalam bentuk kecemasan, depresi, bahkan gangguan jiwa berat. Upaya adaptasi terhadap perubahan sosial penting dilakukan demi menjaga kesehatan secara holistik. Berbagai strategi adaptasi dapat diterapkan, seperti meningkatkan literasi teknologi, memperkuat keterampilan sosial, dan mengelola stres dengan efektif. Dukungan sosial dan profesional dapat menjadi penolong bagi individu yang kesulitan beradaptasi. Kesadaran akan pentingnya adaptasi menjadi kunci menjaga kesehatan di tengah gempuran perubahan sosial.[1]

 "Kesehatan adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup secara produktif secara sosial dan ekonomis", menurut Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan[2]. Selama ini, istilah "kesehatan jiwa" digunakan lebih sering daripada istilah "kesehatan mental", yang merupakan terjemahan dari kata "kesehatan mental."

Kesehatan mental masih menjadi isu penting di Indonesia yang sering kali disalahpahami dan dipandang negatif oleh masyarakat. Banyak penderita gangguan jiwa enggan mencari bantuan medis dan psikiatris karena kurangnya pemahaman mengenai kesehatan mental secara ilmiah. Padahal, kesehatan mental yang baik mencakup keseimbangan antara perkembangan fisik, mental, spiritual, dan sosial, yang memungkinkan individu untuk menyadari diri, mengatasi stres, produktif, dan berkontribusi pada masyarakat. Modernisasi dan kemajuan teknologi sering kali menggeser nilai-nilai tradisional dan spiritual, yang sebenarnya memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Hilangnya aspek spiritualitas dalam kehidupan modern dapat menjadi pemicu masalah kesehatan mental yang serius.

Al-Quran selalu menjadi panduan hidup yang sesuai dalam segala kondisi dan tempat. Seiring dengan perkembangan dan beragamnya masalah yang dihadapi masyarakat, Al-Quran hadir untuk memberikan solusi bagi setiap permasalahan. Masalah-masalah yang dihadapi masyarakat meliputi keuangan, asmara, konflik dengan kerabat atau keluarga, meningkatnya biaya hidup, kurang memadainya biaya kesehatan dan pendidikan, serta ketidakpastian masa depan. Dalam situasi seperti itu, kita membutuhkan pedoman untuk tidak terjebak dalam perasaan gelisah, cemas, dan hati yang tidak stabil. Alquran hadir untuk memberikan jawaban, berfungsi sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman yang bersedia mendalami makna dari isi kandungannya. sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Al-Isra ayat 82:

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا

Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.(Al-Isrā' [17]:82)

Penjelasan rinci mengenai kesehatan mental sering ditemukan dalam kajian psikologi, sedangkan Al-Quran hanya membahasnya secara umum. Diperlukan penafsiran yang lebih mendalam untuk memahami makna tersirat dari isi kandungan Al-Quran.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research). Data dikumpulkan dari berbagai sumber literatur primer dan sekunder. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini, yang merupakan penelitian pustaka, mengumpulkan data dengan cara menelusuri dan menelaah bahan-bahan pustaka terutama dalam kitab-kitab tafsir sebagai sumber primernya dan literatur-literatur lain yang dianggap berkaitan dengan

tema penelitian ini.

Penelitian ini menggunakan metode tafsir tematik (maudhu'i) sebagai pendekatan utama dalam menganalisis data. Metode ini memungkinkan untuk menggali makna dan pesan-pesan universal dalam Alquran dengan cara mengidentifikasi tema-tema spesifik yang terkait dengan topik penelitian.

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengertian kesehatan mental

Kesehatan mental, yang berasal dari kata Yunani "mentis" (pikiran/jiwa) dan Latin "salus" (kesejahteraan), merujuk pada kondisi kesejahteraan individu yang mencakup aspek pikiran, perasaan, dan perilaku. Kesehatan mental yang baik memungkinkan seseorang untuk mengelola stres, produktif, bersosialisasi, dan mengambil keputusan dengan bijak.

Istilah kesehatan mental seringkali digunakan sebagai padanan dari kesehatan jiwa, yang merupakan terjemahan dari "mental health". Konsep ini berasal dari istilah "mental hygiene", di mana "mental" (Yunani) setara dengan "psyche" (Latin) yang berarti psikis atau jiwa. Sementara "hygiene" berasal dari "Hygea", dewi kesehatan dalam mitologi Yunani, yang kemudian berkembang menjadi istilah untuk kegiatan menjaga kesehatan..[3] sama halnya dengan kesehatan fisik, kesehatan mental juga berperan penting dalam kehidupan seseorang. Kesehatan mental meliputi kemampuan individu dalam mengelola stres, berinteraksi dengan orang lain, dan mengambil keputusan secara bijaksana. Menurut beberapa ahli mendefenisikan kesehatan mental, sebagai berikut:

1.      Hadfield

Kesehatan mental adalah upaya memelihara jiwa yang sehat dan mencegah jiwa yang tidak sehat.

2.      Alexander Schneiders

kesehatan mental sangat berkaitan dengan kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tantangan hidup sehari-hari. Schneiders menekankan bahwa penyesuaian diri yang baik melibatkan strategi positif untuk menghadapi stres, interaksi sosial yang sehat, dan kemampuan mengambil keputusan yang bijaksana. Buku ini juga mengeksplorasi berbagai pola penyesuaian diri, termasuk penyesuaian diri pribadi, sosial, vokasional, dan pernikahan, serta peran kesehatan mental dalam keseluruhan kesejahteraan individu.

3.      World Health Organization (WHO)

Kesehatan mental adalah kondisi sejahtera yang memungkinkan individu mengenali potensi diri, menghadapi tekanan hidup sehari-hari, bekerja dengan produktif, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Keseimbangan emosional dan psikologis ini membantu individu menjalani kehidupan yang memuaskan dan bermakna. Kemampuan mengelola stres, membangun hubungan sosial yang sehat, dan mencapai tujuan pribadi merupakan indikator kesehatan mental yang baik. Dengan menjaga kesehatan mental, individu dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan secara keseluruhan. Penting untuk memprioritaskan kesehatan mental dan mencari dukungan jika diperlukan.

4.      Carl Witherington

Kesehatan jiwa adalah bidang ilmu yang berfokus pada pemeliharaan dan peningkatan kondisi jiwa yang sehat. Dengan mempelajari prinsip, metode, dan teknik yang relevan, kesehatan jiwa bertujuan untuk mengembangkan potensi individu secara optimal. Melalui pendekatan holistik, kesehatan jiwa mencakup aspek fisik, mental, emosional, dan spiritual. Tujuan utamanya adalah mencapai kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup yang baik. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kesehatan jiwa, individu dapat mengatasi tantangan hidup, membangun hubungan yang sehat, dan mencapai tujuan

5.      pribadi.Abraham Maslow

Kesehatan mental adalah realisasi diri dan pencapaian potensi penuh individu.

6.      Marie Jahoda

Kesehatan mental adalah keadaan yang mencakup sikap positif terhadap diri sendiri, pertumbuhan, perkembangan, dan aktualisasi diri.

 

Kesehatan mental dapat didefinisikan sebagai kondisi psikologis seseorang yang mencerminkan kemampuannya dalam mengelola emosi dan pikiran, mengembangkan potensi diri, membangun hubungan positif dengan orang lain, produktif dalam bekerja atau belajar, serta berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat.[4] kesehatan mental dan perhatian terhadapnya telah ada sejak zaman kuno. Ungkapan Latin "mens sana in corpore sano" secara harfiah berarti "jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat," yang menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental. Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan kesehatan mental telah ada sejak zaman dahulu kala. Perhatian terhadap kesehatan mental terus berkembang seiring waktu, dan saat ini semakin diakui pentingnya untuk menjaga keseimbangan kesehatan fisik dan mental bagi kesejahteraan umum.[5]

Sejarah kesehatan mental memang tidak sejelas sejarah ilmu kedokteran umumnya. Hal ini disebabkan karena gangguan kesehatan mental tidak selalu terlihat secara fisik seperti gangguan pada tubuh. Karena tidak dapat dengan mudah diamati atau diukur secara objektif, orang yang mengalami masalah kesehatan mental sering kali tidak terdiagnosis dengan tepat, bahkan oleh anggota keluarga mereka sendiri

Ada pula yang berpendapat bahwa orang abnormal  mempunyai ciri-ciri yang relatif , sehingga jauh dari keadaan terintegrasi. Ada  tingkat atribut yang lebih rendah dan lebih tinggi. Misalnya, menurut ilmuwan dan intelektual yang idiot, kompleks inferioritas ini ditemukan pada orang yang menderita psikosis, neurosis, dan psikosis, dan kompleks yang lebih tinggi ditemukan pada kelompok idiot. Mereka memiliki IQ tinggi dan bakat luar biasa dalam bidang seperti musik, matematika,teknik, dan lain-lain. Namun, mereka juga menderita kekurangan mental secara keseluruhan, yang menyebabkan perilaku mereka menjadi aneh, kejam, sadis, atau sangat tidak biasa. Individu yang tidak biasa ini sering diliputi oleh konflik batin, jiwanya miskin, tidak stabil, kurang peduli pada lingkungan sekitar, hidup terpisah dari masyarakat, selalu gelisah dan takut, serta sering mengalami masalah kesehatan fisik.[6]

Pengertian Kesehatan Mental/Jiwa Dalam Islam

lmu kesehatan mental, salah satu cabang tertua dari ilmu jiwa, baru muncul dan berkembang pada akhir abad ke-19 di Jerman. Namun, jauh sebelum itu, para nabi dari Adam hingga Muhammad telah membahas konsep jiwa, penyakit jiwa, dan kesehatan jiwa dalam ajaran agama yang diwahyukan oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang kesehatan mental telah ada sejak lama dalam tradisi agama, mendahului perkembangan ilmu pengetahuan modern. Ajaran para nabi tentang jiwa dan kesehatan mental memberikan landasan spiritual yang kuat bagi pemahaman kita tentang kesejahteraan manusia secara holistik.[7]

Dalam psikologi, istilah "kesehatan mental" sudah lama dikenal dan digunakan secara luas. Namun, dalam konteks pembahasan ini, istilah "kesehatan jiwa" lebih tepat digunakan karena sejalan dengan penggunaan istilah "nafs" (jiwa) dalam Alquran dan hadis. Penggunaan istilah "jiwa" juga lebih sesuai dengan referensi Islam, seperti yang terlihat dalam buku Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali. Oleh karena itu, untuk menjaga kesesuaian dengan sumber-sumber Islam, istilah "kesehatan jiwa" akan digunakan sebagai padanan yang lebih tepat untuk "kesehatan mental" dalam diskusi ini.[8]

Dalam Alquran, istilah "nafs" (النفس) digunakan untuk menjelaskan jiwa. Istilah ini berasal dari bahasa Arab dan memiliki banyak makna (lafazh al-Musytaraq) dan dipahami sesuai penggunaan.[9] Kata nafs juga disebutkan berulang kali dalam Alquran. Dalam Alquran, kata nafs disebutkan 143 kali dalam bentuk mufrad (tunggal), dan 303 kali dalam bentuk jamak, seperti kata benda nufus, anfus, tanaffasa, yatanaffasu, dan almutanaffasun, yang masing-masing berarti diri, jiwa, dan nafsu. Dalam literatur Islam, "nafs" dapat berarti jiwa, ruh, nyawa, keinginan hati, kekuatan, dan kemampuan, yang kadang-kadang memiliki arti negatif.[10].

Kesehatan mental dapat diartikan sebagai kondisi jiwa yang tenang dan seimbang, tercermin dalam akhlak yang baik, kesehatan fisik yang optimal, serta kemampuan memenuhi kebutuhan dasar dengan cara yang halal. Selain itu, kesehatan mental juga mencakup pemenuhan kebutuhan spiritual melalui keimanan yang teguh, kedekatan dengan Allah melalui ibadah dan amal shaleh, serta menjauhi segala hal yang mendatangkan murka-Nya..[11]

Alquran banyak membicarakan tentang penyakit jiwa dan kesehatan mental. Orang yang kurang iman digambarkan sebagai memiliki penyakit jiwa. Selain itu, karena Islam adalah agama yang bertujuan untuk membahagiakan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kesehatan mental pasti ada dalam ajarannya. Selain itu, tujuan kerasulan Nabi Muhammad Saw. adalah untuk mendidik, memperbaiki, dan membersihkan jiwa dan akhlak. sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 

164.  Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Menurut ajaran Islam, setiap orang harus memiliki hubungan yang baik dengan Allah SWT dan satu sama lain, serta dengan alam dan lingkungan mereka. Agama Islam memiliki kemampuan untuk menyembuhkan jiwa manusia, melindunginya dari gangguan kejiwaan, dan membangun kondisi kesehatan mental. Manusia dapat memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun akhirat dengan menghayati dan mengamalkan ajaran Islam.[12]. Agama memiliki peran sebagai terapi (penyembuhan) bagi gangguan kejiwaan, menurut Zakiah Daradjat (w. 1434 H./2013 M.). Pengalaman agama dalam kehidupan sehari-hari dapat mencegah seseorang jatuh ke dalam gangguan jiwa dan membantu mengembalikan kesehatan jiwa mereka. Jika seseorang lebih dekat dengan Tuhan dan melakukan lebih banyak ibadah, jiwanya akan menjadi lebih tenang dan lebih mampu menghadapi kekecewaan dan kesulitan dalam hidup. Sebaliknya, jika seseorang menjauh dari agama, semakin sulit baginya untuk menemukan ketenangan batin.[13]

Pengaruh Agama Terhadap Kesehatan Mental

            Para ahli ilmu jiwa dari berbagai aliran menyatakan pentingnya agama dalam kesehatan mental. "Keimanan kepada Tuhan adalah kekuatan yang luar biasa bagi individu yang religius. Kekuatan rohaniah ini membantu seseorang menghadapi beban kehidupan yang berat dan melindunginya dari kecemasan yang sering dialami oleh banyak orang dalam kehidupan modern yang didominasi oleh materi."[14]

            Dadang Hawari, mengutip berbagai penelitian ahli, menyimpulkan bahwa komitmen agama memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental. Agama berperan dalam pencegahan penyakit, membantu individu mengatasi dan mempercepat pemulihan. Agama lebih cenderung memberikan perlindungan daripada menimbulkan masalah. Komitmen agama secara signifikan berkorelasi positif dengan hasil klinis yang menguntungkan. Ini menunjukkan bahwa agama bukan hanya soal spiritualitas, tetapi juga memiliki implikasi nyata dalam kesehatan mental seseorang.[15]

            Zakiyah Drajat berpendapat bahwa agama memiliki peran penting sebagai terapi untuk masalah kesehatan mental. Pengalaman religius dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi pelindung dari gangguan mental dan membantu proses pemulihan bagi mereka yang mengalami kecemasan. Semakin dekat hubungan seseorang dengan Tuhan dan semakin rajin beribadah, semakin tenang jiwa mereka dan semakin kuat menghadapi kekecewaan serta kesulitan hidup. Sebaliknya, orang yang jauh dari agama akan lebih sulit menemukan ketenangan batin.

Agama adalah sumber nilai, kepercayaan, dan perilaku yang memberikan panduan untuk menemukan makna, tujuan, dan kestabilan hidup manusia. Kehidupan yang efektif membutuhkan panduan hidup yang pasti. Salat dan doa adalah sarana dalam agama untuk mencapai kehidupan yang bermakna.[16] Untuk menghindari kegelisahan, kecemasan, dan ketegangan jiwa, serta untuk mencapai hidup yang tenang, tenteram, bahagia, dan mampu membahagiakan orang lain, seseorang hendaknya beriman kepada Tuhan dan mengamalkan ajaran agama. Agama bukan sekadar dogma, melainkan kebutuhan jiwa yang harus dipenuhi.

Macam-Macam Penyakit/Gangguan Mental Dalam Islam

            Istilah "penyakit mental" jarang digunakan dalam Islam, yang lebih sering menyebutnya sebagai "penyakit hati" (fi qulubihim maradh). Frasa ini muncul 11 kali dalam Alquran, termasuk dalam surat-surat seperti Al-Baqarah (2:10), Al-Maidah (5:52), Al-Anfal (8:49), At-Taubah (9:125), Al-Hajj (22:53), An-Nur (24:50), Al-Ahzab (33:12, 33:60), Muhammad (47:20, 47:29), dan Al-Muddatstsir (74:31).:[17] Dalam perspektif Islam, penyakit hati sering dikaitkan dengan berbagai sifat buruk atau perilaku tercela (al-akhlaq al-mazmumah), seperti dengki, iri hati, arogan, dan emosionalitas berlebihan.

            Menurut M.Quraish shihab, penyakit-penyakit kejiwaan memiliki berbagai jenis dan tingkatan. Sikap angkuh, benci, dendam, fanatisme, keserakahan, dan kekikiran sering kali disebabkan oleh kelebihan pada diri seseorang. Sementara itu, rasa takut, cemas, pesimisme, dan rendah diri muncul karena kekurangan yang dimiliki. Kemudian, menurut Ahmad Musthafa al-Maraghi (w. 1952 M./1371 H.), Penyakit yang bersemayam di dalam dada mencakup penyakit hati, seperti kesombongan, syirik, nifak, kedurhakaan, permusuhan, kezhaliman, rasa was-was, kegelisahan, hawa nafsu, keserakahan, dan hasad.[18]

Tafsiran Ayat-Ayat Tentang Kesehatan Mental

Pandangan Islam mengenai gangguan jiwa sejalan dengan para ahli kesehatan mental. Agama dianggap berperan penting dalam menyembuhkan, mencegah, dan memelihara kesehatan mental. Salah satu contoh istilah penyakit mental/hati (fi qulubihim maradh) dalam Alquran terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 10.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta.

Kata "fi qulubihim maradh" (dalam hati mereka ada penyakit) merupakan gabungan subjek dan predikat. Kata "al-maradh" (penyakit) adalah kata serapan yang dapat merujuk pada penyakit fisik maupun gangguan hati seperti kemunafikan. Dalam konteks ayat ini, penyakit hati bisa berarti kerusakan akidah berupa keraguan, kemunafikan, pengingkaran, atau pendustaan. Hati mereka sakit karena tidak terpelihara, tidak mendapatkan petunjuk, perlindungan, dan dukungan dari Allah.[19].

Artinya, kecenderungan dan cinta mereka terhadap dunia serta kelalaian mereka terhadap akhirat menyebabkan penyakit hati. Junaid menjelaskan bahwa penyakit-penyakit hati muncul karena mengikuti hawa nafsu, sama seperti penyakit fisik muncul karena gangguan pada tubuh..”[20]

Selanjutnya, Allah berfirman, فَزَادَهُمُ اللّٰهُ "Lalu ditambah Allah penyakitnya." Ini berarti Allah membiarkan mereka terjerumus dalam kesesatan dan menimpakan berbagai kekhawatiran duniawi kepada mereka, sehingga mereka tidak lagi memiliki waktu untuk memperhatikan agama.

            M. Quraish Shihab menafsirkan kata "fî qulûbihim maradhun" sebagai gangguan dalam hati yang menyebabkan perilaku menyimpang dari kewajaran, mengakibatkan akhlak yang buruk akibat kemunafikan. Thâhir Ibn ‘Âsyûr menambahkan bahwa sifat buruk ini akan terus bertambah seiring waktu, sesuai dengan sunnatullah, tanpa disadari oleh pelakunya. Kemunafikan memperparah kondisi ini karena menutupi sifat buruk dan menghalangi penerimaan kritik atau nasihat yang konstruktif. Ayat tersebut mengulang kata "maradh" dalam bentuk nakirah (indefinite). Menurut kaidah bahasa, apabila kata yang sama diulang dalam bentuk nakirah dalam satu susunan kalimat, makna kata pertama akan berbeda dengan makna kata kedua. Ini menunjukkan bahwa penyakit yang awalnya diderita oleh orang-orang munafik bertambah parah akibat kemunafikan mereka, sehingga menyebabkan komplikasi dan munculnya penyakit-penyakit baru.Penyakit tersebut sebenarnya muncul akibat perbuatan mereka sendiri, bukan langsung dari Allah. Namun, ayat ini menyatakan bahwa Allah yang menambahnya.

Hal ini terjadi karena Allah telah menetapkan sunnatullah, yaitu hukum sebab-akibat yang berlaku secara universal. Dengan demikian, seolah-olah Allah yang menambah penyakit tersebut sebagai konsekuensi dari tindakan mereka. Ini juga menunjukkan kemurkaan Allah terhadap kaum munafik atas berbagai tipu daya yang mereka lakukan..[21]. Kata "qalb" atau "qulub" dalam bahasa Arab dapat merujuk pada akal dan hati. Sementara itu, kata "maradh" umumnya berarti penyakit. Ibnu Faris (w. 395 H./1004 M.), seorang ahli bahasa, mendefinisikan "maradh" sebagai segala sesuatu yang menyebabkan ketidakseimbangan pada manusia, baik secara fisik, mental, maupun dalam tindakannya. Ketidakseimbangan ini bisa berupa kelebihan atau kekurangan.[22]

Untuk memahami munasabah (keterkaitan atau kesesuaian) dari ayat ini, kita harus melihat konteks ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya dalam Surah Al-Baqarah. Munasabah ayat ini biasanya dilihat dalam kaitannya dengan ayat-ayat yang membahas tentang sifat orang-orang munafik.

Ø  Ayat Sebelumnya (2:8-9):

·         Ayat 8 dan 9 membahas orang-orang yang mengaku beriman tetapi sebenarnya tidak beriman. Mereka berusaha menipu Allah dan orang-orang beriman, namun mereka hanya menipu diri mereka sendiri.[23]

·         Ayat 10 melanjutkan deskripsi tentang kondisi hati orang-orang munafik tersebut, menunjukkan bahwa dalam hati mereka ada penyakit yang diperburuk oleh Allah karena kedustaan mereka.

Ø  Ayat Sesudahnya (2:11-12):

·         Ayat-ayat ini berbicara tentang tindakan dan klaim orang-orang munafik bahwa mereka adalah pembawa perdamaian, padahal sebenarnya mereka adalah perusak.

·         Ayat 10 menyebutkan penyakit dalam hati mereka, yang menjelaskan tindakan mereka yang berlawanan dengan klaim mereka.

Dalam Tafsir Al-Misbah oleh Quraish Shihab, dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan sifat dan akibat dari kemunafikan."Penyakit" dalam hati mereka adalah keraguan, kebencian, dan niat jahat. Karena ketidakjujuran mereka, Allah menambah penyakit dalam hati mereka sebagai hukuman atas penipuan mereka. Ini menunjukkan bahwa kedustaan dan penipuan membawa dampak negatif pada diri pelakunya, memperburuk kondisi spiritual dan moral mereka.Penjelasan ini menggarisbawahi pentingnya kejujuran dan integritas dalam iman, serta konsekuensi buruk dari kemunafikan.[24] Munasabah ayat 10 dari Surah Al-Baqarah ini menunjukkan kelanjutan dari tema yang sama di ayat-ayat sebelumnya tentang sifat orang-orang munafik dan akibat dari kedustaan mereka. Ayat ini menegaskan bahwa penyakit dalam hati mereka adalah hasil dari tindakan mereka sendiri, dan Allah menghukum mereka dengan menambah penyakit tersebut, yang akhirnya membawa pada siksa yang pedih.

Pengobatan Gangguan Mental Dalam Alquran

Sebagai kitab suci umat Islam, Al-Quran memiliki elemen yang berkaitan dengan penyembuhan gangguan mental. Islam, bersama dengan semua petunjuk Alquran, adalah obat jiwa dan penyembuh hati[25]. Allah Swt. yang menurunkan berbagai macam penyakit dan Allah jugalah yang menyembuhkannya.

 Sebagaiamana sabda Rasulullah Saw.

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Semua penyakit ada obatnya. Apabila sesuai antara obat dan penyakitnya, maka (penyakit) akan sembuh dengan izin Allah Swt.”. (HR. Muslim)

Berkaitan dengan kata hal tersebut, Allah Swt. berfirman dalam QS. Yunus: 57 dan juga QS. al-Isra: 82

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

 “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

 “Hai seluruh manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu pengajaran dari Tuhan kamu dan obat bagi apa yang terdapat dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.” (QS. Yunus: 57).

M. Quraish Shihab berpendapat bahwa kelompok ayat ini kembali membahas topik utama surat ini, yaitu keheranan orang-orang atas wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Setelah kebenaran Alquran dibuktikan dan ditantang, ayat ini menjelaskan fungsi wahyu yang diingkari dan diremehkan. Ayat ini ditujukan kepada semua manusia sepanjang masa, mengingatkan mereka bahwa telah datang pengajaran yang agung dan bermanfaat dari Tuhan, yaitu Alquran, yang merupakan obat ampuh bagi penyakit kejiwaan, petunjuk menuju kebenaran, dan rahmat bagi orang-orang beriman.

Al-Quran menunjukkan bahwa wahyu Ilahi memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit rohani seperti ragu, dengki, dan takabur yang berada dalam hati manusia. Hal ini tercermin dalam penggunaan kata "dada" yang merujuk pada hati dalam Al-Quran. Al-Quran menggambarkan hati sebagai tempat di mana cinta dan benci, keinginan dan penolakan berada. Hati juga dianggap sebagai alat untuk mengetahui dan mampu menampung sifat-sifat terpuji serta menciptakan rasa ketenangan dan kedamaian[26]. Menurut Thâhir Ibn 'Âsyûr. ada empat fungsi Alquran, menurut ayat-ayat di atas: pengajaran, pengobatan, petunjuk, dan rahmat. Ayat ini menunjukkan kehadiran Alquran dalam jiwa manusia.

Berikut adalah ilustrasi yang diberikan oleh ulama. Seseorang yang sakit adalah ketika keadaan kesehatannya tidak stabil, dan lemah. Untuk kesembuhannya, ia menunggu kedatangan dokter yang dapat memberikan obat kepadanya. Tidak diragukan lagi, dokter harus memberi tahu pasien ini tentang penyebab penyakitnya dan efeknya yang dapat bertahan lama. Setelah memberinya obat untuk kesembuhan, dokter juga harus memberinya petunjuk dan saran tentang cara menjaga kesehatan sehingga penyakitnya tidak kambuh lagi. Apabila seseorang mengikuti nasihat dokter, mereka akan sehat, bahagia, dan terhindar dari penyakit. Demikian pula, jika kita menerapkan empat fungsi Alquran secara bertahap, pengajarannya akan menyentuh hati yang dipenuhi keraguan dan kelalaian. Sentuhan ini akan menghilangkan keraguan, menggantinya dengan keimanan, dan mengubah kelalaian menjadi kewaspadaan. Ayat-ayat Alquran akan menjadi obat bagi penyakit rohani, mempersiapkan jiwa untuk menerima petunjuk, pengetahuan yang benar, dan pemahaman tentang Tuhan. Ini akan melahirkan akhlak mulia, perbuatan baik, yang mendekatkan seseorang kepada Allah dan mendatangkan rahmat, termasuk surga dan ridha-Nya.[27].

Imam Al-Qurthubi (w. 671 H./1273 M.), dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa frasa "wa syifa' lima fis sudur" (dan penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada) merujuk pada penyembuhan penyakit-penyakit hati. Penyakit-penyakit ini meliputi keraguan yang mengganggu keimanan, kemunafikan yang merusak ketulusan, penentangan terhadap kebenaran, dan perpecahan yang memecah belah umat. Al-Qurthubi menekankan bahwa Al-Quran berperan sebagai obat bagi penyakit-penyakit tersebut, memberikan petunjuk dan pencerahan bagi hati yang sakit. Dengan demikian, Al-Quran tidak hanya memberikan petunjuk secara lahiriah, tetapi juga menyembuhkan penyakit-penyakit batin yang dapat menghalangi seseorang mencapai kebahagiaan sejati.[28]

KESIMPULAN

Apabila seseorang mengikuti nasihat dokter, mereka akan sehat, bahagia, dan terhindar dari penyakit. Demikian pula, dalam konteks spiritual, Alquran menawarkan panduan serupa. Jika kita menerapkan empat fungsi Alquran secara bertahap, pengajarannya akan menyentuh hati yang dipenuhi keraguan dan kelalaian, layaknya dokter yang mendiagnosis dan merawat penyakit.

Sentuhan Alquran ini akan menghilangkan keraguan, menggantinya dengan keimanan yang kokoh. Seperti obat yang menyembuhkan, ayat-ayat suci ini mengubah kelalaian menjadi kewaspadaan. Alquran menjadi obat bagi penyakit rohani, membersihkan hati dari noda-noda keraguan dan ketidaktahuan.

Dengan hati yang bersih dan terbimbing, jiwa menjadi siap menerima petunjuk, pengetahuan yang benar, dan pemahaman mendalam tentang Tuhan. Ini adalah langkah awal menuju transformasi diri. Dari pemahaman yang benar akan lahir akhlak mulia dan perbuatan baik, yang pada gilirannya akan mendekatkan seseorang kepada Allah, sumber segala rahmat, termasuk surga dan ridha-Nya

DAFTAR PUSTAKA

Ahsin Sakho Muhammad, Keberkahan Alquran Memahami Tema-Tema Penting

Kehidupan Dalam Terang Kitab Suci, (Jakarta: Qaf Media, 2017). Hal. 13

Al-Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi Jilid 20. Hal. 472

Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Jilid 11 (Semarang: PT Karya Toha Putra, 1993). Hal. 235

Ahmad Mubarok, “Psikologi Islam Kearifan Dan Kecerdasan Hidup”. Hal. 187

Syamsu Yusuf LN, Kesehatan Mental Perspektif Psikologi Dan Agama. Hal. 163

 Dadang Hawari, Alquran Ilmu Kedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa. Hal. 24

Syamsu Yusuf LN, Kesehatan Mental Perspektif Psikologi Dan Agama, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2018). Hal. 162

Https://Play.Google.Com/Store/Apps/Details?Id=Com.Quran.Kemenag

M. Abdul Mujib, Ahmad Ismail M, Syafi’ah, Ensiklopedia Tasawuf Imam Alghazali (Jakarta: PT Miz

Http://Eprints.Poltekkesjogja.Ac.Id/8512/4/4.%20chapter%202.Pdf

 Kartini Kartono, Psikologi Abnormal (Bandung, Alumni, 1995) Hal. 2

Https://Etheses.Iainkediri.Ac.Id/11914/3/933600316_Bab2.Pdf

 

 



[1] Dadang Hawari, Alquran Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa (Jakarta:

Dana Bhakti Prima Yasa,1996). Hal. 1-2

[2] Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan

[3] Kusnanto, Kesehatan Jiwa, (Semarang: CV Ghyyas Putra, 2019). Hal. 4

[4] Syamsu Yusuf LN, Kesehatan Mental Perspektif Psikologi dan Agama. Hal. 29

[5] Moeljono Notosoedirjo, Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan. Hal. 134.

[6] Kartini Kartono, Psikologi Abnormal (Bandung, Alumni, 1995) Hal. 2

[7]  AF Jaelani, Penyucian Jiwa & Kesehatan Mental (Jakarta: Amzah, 2001). Hal. 79

[8] M. Abdul Mujib, Ahmad Ismail M, Syafi’ah, Ensiklopedia Tasawuf Imam AlGhazali (Jakarta: PT Mizan publika,2009 hal 326

[9] Masganti, Psikologi Agama (Medan: Perdana Publishing, 2011). Hal. 106

[10] Mochtar effendi, Ensiklopedi Agama dan Filsafat (Palembang: Universitas Sriwijaya, 2001) Hal. 163

[11] Masganti, Psikologi Agama. Hal. 165

[12] Purmansyah Ariadi, ‘Kesehatan Mental Dalam Perspektif Islam’, Fakultas

Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang, 3 (2013). Hal. 124

[13] Syamsu Yusuf LN, Kesehatan Mental Perspektif Psikologi Dan Agama,

(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2018). Hal. 162

[14] Ramayulis, Psikologi Agama (Jakarta: Kalam Mulia, 2002). Hal. 132

[15] Dadang Hawari, Alquran Ilmu Kedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa. Hal. 24

[16] http://repo.iain-tulungagung.ac.id/4630/3/BAB%20II.pdf

[17] Ahmad Mubarok, “Psikologi Islam Kearifan Dan Kecerdasan Hidup”. Hal. 187

[18] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Jilid 11 (Semarang: PT Karya

Toha Putra, 1993). Hal. 235

[19] Al-Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007). Hal. 470

[20] Al-Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi Jilid 1. Hal. 471

[21] 5 M. Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISHBAH Pesan, Kesan, Dan Keserasian Alquran Vol. 1 (Jakarta: Penerbit Lentera Hati, 2009). Hal. 124

[22] M. Quraish Shihab, Wawasan Alquran Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat. Hal. 188

[23] https://tafsirweb.com/188-surat-al-baqarah-ayat-8.html

[24] https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/1075

[25] 8 Sa’id bin Ali Al-Qohtoni, Al-‘Ilaj Bi Al-Ruqiy (Jeddah: Maktabah Aulad, 2012). Hal. 48

[26] M. Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISHBAH Pesan, Kesan, Dan Keserasian Alquran. Vol.5 Hal. 438-439

[27] M. Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISHBAH Pesan, Kesan, Dan Keserasian Alquran. Vol. 5. Hal. 440

[28] Al-Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi Jilid 20. Hal. 858

Komentar

Postingan populer dari blog ini

jari