kemukjizatan Alquran
KARYA TULIS ILMIA
"Kemukjizatan Al_Quran "
Oleh : Hanisa
A. Devenisi i'jaz/ Mukjizat
I'jaz berarti menetapkan kelemahan. dalam pengertian umum,kelemahan ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu.seperti dalam ayat
اَعَجَزْتُاَنْاَكُوْنَمِثْلَمَاذَاالْفُرَابِفَاُوَرِيَسَوْءَةَاَخِي
"Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung Gagak ini, lalu aku menguburkan mayat saudara ku ini "
Ayat diatas menegaskan kelemahan Qabil dari kemampuan seekor burung Gagak. Jika kemukjizatan telah terbukti, maka jelaslah kemampuan mu'jiz, sesuatu yang melemahkan. Dalam konteks permasalahan ini, yang dimaksud dengan i'jaz adalah menampakkan kebenaran Nabi yang mengaku sebagai Rasul dengan menunjukkan kelemahan orang Arab dalam menghadapi mukjizat terbesar Nabi, yaitu Al Quran. Nabi Muhammad SAW.menggunakan Al Qur’an untuk menantang orang-orang Arab yang pada saat itu berada pada tingkat fashahah dan balaghah yang tinggi. Orang- orang Arab tidak berdaya menghadapinya. Hal ini karena Al Qur’an memang diturunkan sebagai mukjizat.
Paling tidak, adatiga fase yang digunakan Nabi dalam menantang orang-orang Arab untuk menandingi Al Qur’an.
Pertama, menantang mereka bahkan juga terhadap golongan jin untukmembuat yang serupa dengan Al Qur’an. Sebagaimana firman Allah SWT:
قل لكن اجتمعت الانس والجن على ان ياتوابمثل هذا ا لقران لا ياتون بمثله ولو كان بعضهم لبعض ظهير
“katakanlah , sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia. Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu untuk sebagian yang lain.
Kedua, Nabi menantang mereka untuk membuat sepuluh ayat yg serupa. Hal ini dinyatakan dalam firman Allah SWT:
أَمْيَقُولُونَافْتَرَاهُۖقُلْفَأْتُوابِعَشْرِسُوَرٍمِثْلِهِمُفْتَرَيَاتٍوَادْعُوامَنِاسْتَطَعْتُمْمِنْدُونِاَِإِنْكُنْتُمْصَادِقِين
فَإِلَمْيَسْتَجِيبُوالَكُمْفَاعْلَمُواأَنَمَاأُنْزِلَبِعِلْمِاَِوَأَنْلاَإِلََهَإِلاَهُوَۖفَهَلْأَنْتُمْمُسْلِمُون
‘’Bahkan mereka mengatakan, ‘Muhammad telah membuat-buat Alquran itu’.Katakanlah, ‘Maka datangkanlah 10 surat seumpamanya dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar’. Jika andamereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu itu maka ketahuilah, sesungguhnya Alquran itu diturunkan dengan ilmu Allah,dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri?’’ (QS Huud [11]:13-14).
Ketiga, Allah menantang untuk membuat satu surat yang seperti surat dalam Alquran. Allah berfirman:
امْيَقُولُونَافْتَرَاهُۖقُلْفَأْتُوابِسُورَةٍمِثْلِهِوَادْعُوامَنِاسْتَطَعْتُمْمِنْدُونِاَِإِنْكُنْتُمْصَادِقِين
‘’Atau mereka mengatakan, ‘Muhammad membuat-buatnya’. Katakanlah, ‘Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil selain Allah, jika kamu orang yang benar’.’’ (QS Yunus [10]: 38)
Uraian di atas jelas menunjukkan bahwa Alquran merupakan kalam Allah, dan bukan buatan Muhammad seperti yang sering kaum orientalis tuduhkan. Karenanya, sejatinya umat Islam harus mencintai danmengamalkan apa yang telah Allah turunkan dalam Alquran.
Tantangan serupa dinyatakan lagi dalam ayat lain yang artinya:
“Dan jika kamu tetap dalm keraguan tentang Al-qur'an yang kami wahyukan kepada hamba kami(Muhammad), buatlah satu surah saja semisal Al-qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”
Tantangan demi tantangan di ajukan kepada kalangan bangsa Arab yang terkenal dengan kemahiran dalam bidang sastra. Ternyata, potensi-potensi dan kemampuan yang mereka miliki tidak sanggup menjawab tantangan diatas. Menurut akal sehat suatu tantangan, apalagi ditunjukkan kepada para ahlinya , merupakan suatu bentuk sikap yang sangat ekstrem. Karena seseorang yang berani mengajukan tantangan mestilah memiliki dua kemungkinan yang melanda dirinya: pertama, ia tidak normal atau gila dan kedua ia memang benar-benar hebat, tahu kalau dia lebih unggul dari yang lain. Al-qur'an datang menantang bahasa Arab adalah bukti keunggulan dan kemukjizatannya.
Menurut Manna’ Khalil Al-Qaththan, kemukjizatan Al-quran bagi bangsa-bangsakain juga tetap berlaku sepanjang masa, dan selalu ada dalam posisi tantangan yang tegar. Misteri-misteri alam yang disingkap ilmu-ilmu pengetahuan modern hanyalah sebagian dari fenomena-fenomena hakikat tinggi yang terkandung dalam misteri alam wujud, yang membuktikan adanya Tuhan dan kemahakuasaan-Nya.
Paham As-Sharfah
As-Sharfah terambil dari akar kata ) صرفSharafa) yang berarti memalingkan, dalam sehingga seandainya tidak dipalingkan, manusia akan mampu. Dengan kata lain, pengertian bahwa Allah memalingkan manusia dari upaya membuat semacam al-Quran, dari al-Quran itu sendiri.]26kemukjizatan al-Quran dianggap oleh paham as-sharfah lahirdari faktor eksternal, bukan dari Alquran itu sendiri.
Sementara itu, Muhammad bin Ali As-Shabani menyatakan bahwa maksud dari kemukjizatan itu sebenarnya bukan pada kelemahan bangsa Arab salam menandingi Bahasa Al-quran, karena setiap orangyang berakal sehat pasti tahu, kalau mereka pasti tidak akan mampu. Maksud yang lebih penting ialah menunjukkan bahwa Al-quran adalah benar, kerasulan Muhammad adalah kebenaran , demikian pula seluruh mukjizat para nabi terdahulu yang melemahkan kaumnya. Tujuan yang paling tinggi adalah bahwa para rasul itu adalh benar diturunkan oleh Dzat yang maha bijaksana dan mahakuasa. Kerasulan mereka adalah benar dan mukjizat itu adalah argumen-argumen dari Allah swt, terhadap hamba-Nya. Sepertinya Allah ingin menegaskan dengan mukjizat itu bahwa rasul-rasul-Ku adalah benar dan wahyu yang diturunkan kepada mereka juga adalah benar dari-Ku. Jelas bahwa Al-quran itu bukan tandingan manusia sama sekali.
B. pembagian jenis mukjizat
1.Mu’jizat Indrawi (Hissiyyah)
Mukjizat jenis ini diderivasikan pada kekuatan yang muncul dari segi fisik yang mengisyaratkan adanya kesaktian seorang nabi. Secara umum dapat diambil contoh adalah mukjizat nabi Musa dapat membelah lautan, mukjizat nabi Daud dapat melunakkan besi serta mukjizat nabi-nabi dari bani Israil yang lain.
2.Mukjizat Rasional (’aqliyah)
Mukjizat ini tentunya sesuai dengan namanya lebih banyak ditopang oleh kemampuan intelektual yang rasional. Dalam kasus al Qur-an sebagai mukjizat nabi Muhammad atas umatnya dapat dilihat dari segi keajaiban ilmiah yang rasional dan oleh karena itulah mukjizat al Qur-an ini bias abadi sampai hari Qiamat.
C.Hikmah Pembagian Mukjizat
Imam Jalaludin as-Suyuthi, berkomentar mengenai hikmah pembagian mukjizat tersebut dimana beliau berpendapat bahwa kebanyakan maukjizat yang 1ditanpakkan Allah pada diri para nabi yang diutus kepada bani Israil adalah mukjizat jenis fisik. Beliau menambahkan hal itu dikarenakan atas lemah dan keterbelakangan tingkat intelegensi bani Israil.
Sementara, sebab yang melatarbelakangi diberikannya mukjizat rasional atas umat nabi Muhammad adalah keberadaan mereka yang sudah relative matang dibidang intelektual Beliau menambahkan, oleh karenaitu al Qur-an adalam meukjizat rasional, maka sisi i’jaznya hanya bisa diketahui dengan kemampuan intelektual, lain halnya dengan mukjizat fisik yang bias diketahui dengan instrument indrawi.
Meskipun al Qur-an diklasifikasian sebagai mukjizat rasional ini tidak serta merta menafikan mukjizatmukjizat fisik yang telah dianugerahkan Allah swt kepadanya untuk memperkuat dakwahnya.
D.Aspek-aspek Kemukjizatan Al-quran
Para ulama sepakat bahwasanya al-Quran tidaklah melemahkan manusia untuk mendatangkan sepadan al-Quran hanya karena satu aspek saja, akan tetapi karena beberapa aspek, baik aspek lafzhiyah (morfologis), ma’nawiyah (semantik) dan ruhiyah (psikologis). Semuanya bersandarkan dan bersatu, sehingga melemahkan manusia untuk melawannya.[19] Namun demikian mereka berbeda pendapat dalam meninjau segi kemukjizatan al-Quran. Perbedaan itu adalah sebagai berikut:
a. Sebagian ulama berpendapat bahwa segi kemukjizatan al-Quran adalah sesuatu yang terkandung dalam al-Quran itu sendiri, yaitu susunan yang tersendiri dan berbeda dengan bentuk puisi orang Arab maupun bentuk prosanya, baik dalam permulaannya, maupun suku kalimatnya.
b. Sebagian yang lain berpendapat bahwa segi kemukjizatan al-Quran itu terkandung dalam lafal-lafalnya yang jelas, redaksinya yang bernilai sastra dan susunannya yang indah, karena nilai sastra yang terkandung dalam al-Quran itu sangat tinggi dan tidak ada bandingannya.
c. Ulama lain berpendapat bahwa kemukjizatan itu karena al-Quran terhindar dari adanya pertentangan, dan mengandung arti yang lembut dan memuat hal-hal ghaib diluar kemampuan manusia dan diluar kekuasaan mereka untuk mengetahuinya.
d. Ada lagi ulama yang berpendapat bahwa segi kemukjizatan al-Quran adalah keistimewaan-keistimewaan yang nampak dan keindahan-keindahan yang terkandung dalam al-Quran, baik dalam permulaan, tujuan maupun dalam menutup setiap surat.[20]
imam al-Qurtubi dalam tafsirnya al-Jami’i Ahkamil Quran menyebutkan sepuluh segi kemukjizatan al-Quran, sementara al-Zarkani dalam kitabnya Manahilul Irfan mencatat empat belas segi kemukjizatan al-Quran.[21] Perbedaan pendapat ulama diatas diketahui sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Jadi bukan berbeda dalam menentukan batasan-batasan kemukjizatan al-Quran, karena aspek-aspek kemukjizatan al-Quran tidak hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu yang mereka sebutkan.[22]
Adapun aspek-aspek kemukjizatan al-Quran adalah:
1. Susunan bahasanya yang indah, berbeda dengan susunan bahasa Arab
2. Uslubnya (susunannya) yang menakjubkan, jauh berbeda dengan segala bentuk susunan bahasa Arab.
3. Keagungan yang tidak mungkin bagi makhluk untuk mendatangkan sesamanya.
4. Syariat yang sangat rinci dan sempurna melebihi setiap undang-undang buatan manusia.
5. Mengabarkan hal-hal ghaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan wahyu.
6. Tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.
7. Al-Quran memenuhi setiap janji dan ancaman yang dikabarkannya.
8. Luasnya ilmu-ilmu pengetahuan yang terkandung didalamnya.
9. Kesanggupannya dalam memenuhi segala kebutuhan manusia.
10. Berpengaruh terhadap hati para pengikutnya dan orang-orang yang nmemusuhinya.[23]
E. Lingkup kemukjizatan Al-quran
1. Golongan mu’tazilah berpendapat bahwa kemukjizatan itu berkaitan dengan keseluruhan Al-quran,bukan dengan sebagiannya , atau dengan setiap suratnya secara lengkap.
2. Sebagian ulama berpendapat , sedikit atau banyak dari Al-quran itu, tanpa harus satu surat penuh , juga merupakan surat mukjizat: “maka hendaklah mereka mendatangkn kalimat yang semisal Al-quran “
3. Ulama yang lain berpendapat , kemukjizatan Al-quran itu hanya cukup dengan satu surat lengkap sekalipun pendek , atau dengan ukuran satu surat, baik satu ayat atau berapa ayat
Kesimpulan
Al-Quran adalah mukjizat nabi Muhammad Saw., terbesar yang sifatnya ‘aqliyah sehingga berlaku sepanjang zaman karena dapat dijangkau oleh perkembangan akal manusia. Kemukjizatan al-Quran terletak pada aspek keindahan bahasanya, kabar berita yang dibawanya, keluasan isi materi yang terkandung didalamnya maupun dari segi-segi lainnya, dan tidak ada seorang manusiapun sampai kapanpun dapat menandinginya. Mukjizat al-Quran merupakan hal-hal yang luar biasa yang terdapat didalam al-Quran itu sendiri, bukan datang dari luar al-Quran, karenanya paham as-sharfah tidak dapat diterima. Demikianlah makalah ini disampaikan dalam seminar mata kuliah al-Quran, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan baik literature yang digunakan maupun susunan bahasanya, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan. Hanya kepada Allahlah kita menyerahkan diri.
DAFTAR PUSTAKA
Anis, Ibrahim, et.all., al-Mu’jam al-Washith, Surabaya: t.t.Ansari, Ibnu Mansur Jamaluddin Muhammad bin Mukarram al-, Lisan al-Arab, Beirut: al-Dar al-Misriyah, 1990.Khallaf, Abdul Wahab, Ilmu Ushul Figh, cet. 8, terj. Noer Iskandar al-Barsany dan Moh. Tolchah Mansoer, Kairo: Dar al-‘Ilm:1978.Munawwar, Said Aqil Husain al-, I’jaz al-Quran dan Metodelogi Tafsir, Semarang: Dimas, 1994.Qattan, Manna’ al-, Mabahis fi Ulum al-Quran, Beirut: Maktabah Wahbah, 2004.
Komentar
Posting Komentar