mengungkap rahasia dalam sholat perspektif syekh ibn 'athaillah

 Mengungkap Rahasia Dalam Shalat Perspektif Syekh Ibnu ‘Athaillah 


Agil Gibran

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene, Indonesia



Abstract

This research discusses the importance of prayer in preventing vile deeds according to Ibn 'Athaillah in his book Tajul 'Arus. Prayer, etymologically meaning "supplication," and terminologically referring to activities with prescribed pillars and recitations at specific times. Prayer is also understood as reverence and purification to Allah. Ibn 'Athaillah in Tajul 'Arus asserts the benefits of prayer through a narrative indicating that prayer not only prevents vile deeds but also calms the heart and brings contentment with Allah. Additionally, prayer serves as a place of supplication and purification of the heart. Quranic verses also emphasize the importance of prayer in a Muslim's life. This article also discusses the benefits of various prayer movements for the body and explores Quranic verses about prayer. Thus, this article depicts the significance of prayer in a Muslim's life from various aspects.

Keywords: Confidential, Shalat, Syekh ibnu ‘athaillah

Abstrak

Penelitian ini membahas tentang pentingnya shalat dalam mencegah perbuatan keji menurut Ibnu 'Athaillah dalam kitabnya Tajul 'Arus. Shalat, secara etimologi bermakna "doa", dan secara terminologi merupakan kegiatan dengan rukun-rukun dan bacaan-bacaan yang telah ditentukan pada waktu-waktu tertentu. Shalat juga dipahami sebagai pengagungan dan pensucian kepada Allah. Ibnu 'Athaillah dalam Tajul 'Arus menegaskan manfaat shalat melalui sebuah hikayat yang menunjukkan bahwa shalat tidak hanya mencegah perbuatan keji, tetapi juga menenangkan hati serta menjadikan seseorang ridha kepada Allah. Selain itu, shalat juga merupakan tempat munajat dan wahana penyucian hati. Ayat-ayat Al-Qur'an juga menegaskan pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim. Artikel ini juga mengulas manfaat beberapa gerakan dalam shalat bagi tubuh serta membahas ayat-ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang shalat. Dengan demikian, artikel ini menggambarkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim dari berbagai aspek.

Kata Kunci: Rahasia, Shalat, Syekh Ibnu ‘Athaillah


PENDAHULUAN

 Seorang muslim tidak dapat memisahkan dirinya dari shalat dalam kehidupan yang di jalani sehari-hari, karena sholat merupakan kegiatan yang wajib di lakukan oleh semua umat muslim yang dilakukan dalam lima kali dalam sehari yaitu pada waktu subuh, dzuhur, asar, maghrib, dan isya’. Selain itu juga terdapat pula shalat sunnah yang dilakukan pada waktu yang telah tertentu misalnya shalat sunnah tahajjud yang dilakukan pada malam hari tepatnya di sepertiga malam. Dalam agama islam shalat sebagai ibadah yang paling di syariatkan dan di utamakan karena mempunyai posisi yang amat sangat penting dalam kehidupan seseorang, terutama umat muslim dan dalam rukun islam menempati urutan kedua setelah syahadat. Hal tersebut di buktikan oleh Al-Qur’an yang di dalamnya banyak menyebutkan kata shalat. Apa hakikatnya, shalat merupakan perjalanan spiritual untuk berhubungan dengan sang pencipta yang dilakukan pada waktu yang telah di tentukan. Seseorang yang melaksanakan shalat pada hakikatnya ia melepaskan diri dari segala urusan-nya di dunia dan menyerahkan diri sepenuhnya untuk bermunajat, memohon petunjuk dan rahmat kepada Allah swt.

 Pada kenyataan-nya banyak sekali orang muslim yang melalaikan shalat dengan berbagai alasan tertentu. Dan mereka tidak mengetahui seberapa dahsyatnya manfaat shalat tersebut dalam kehidupan. Banyak umat muslim yang melalaikan shalat dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan yang membuatnya stress yang berkepanjangan. Padahal dengan melakukan shalat akan mempermudah segala urusan yang dihadapi salah satunya tentang pekerjaan. Sesibuk apapun manusia harus mangutamakan shalat karena ia merupakan ibadah yang wajib dilakukan. Untuk memecahkan masalah tersebut. Perlu di bahas tentang manfaat-manfaat shalat dalam kehidupan oleh karena itu sangat penting bagi manusia terutama umat muslim untuk mengetahui seberapa penting dan besarnya manfaat shalat dalam kehidupan dunia dan akhirat.


METODE 

Dalam penelitian ini subyeknya adalah ayat-ayat al-Qur’an, oleh karena itu pendekatan yang cocok dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan tematik, dikarenakan tepat dalam mempelajari konsep-konsep al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah ini yang secara komperhensif. Menemukan jawaban dalam al-Qur’an mengenai masalah rahasia dalam shalat dan bagaimana al-Qur’an memberikan solusi yang tepat dalam mengatasinya dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang berhubungan dengan penelitian ini.

Metode tematik secara garis besar yaitu membahas ayat-ayat tentang tema tertentu, ayat-ayat telah dihimpun dan dikaji secara mendetail dan sempurna, kemudian didukung oleh fakta-fakta serta dalil yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Metode penafsiran tematik yang dikenalkan oleh ulama tafsir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pedoman terhadap Al-Qur'an. Dalam metode tematik, Alquran tidak ditafsirkan ayat demi ayat, melainkan dengan menggabungkan ayat-ayat yang berbicara tentang pokok bahasan yang sama.



HASIL DAN PEMBAHASAN

Biografi syekh ibnu ‘Athaillah

Nama lengkapnya adalah Shekh Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah as Sakandari. Ia lahir di Iskandaria (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di kairo pada 1309 M. Julukan al-Iskandari as-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu.

Sejak kecil, Ibnu Atha’illah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syekh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili.

Ibnu Atha'illah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih. Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat.

Ibnu Atha'illah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih. Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat.

Meski ia tokoh kunci di sebuah tarikat, bukan berarti aktifitas dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di tarikat saja. Buku-buku Ibnu Atha'illah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas mazhab dan tarikat, terutama kitab al-Hikam.

Kitab al-Hikam ini merupakan karya utama Ibnu Atha’illah, yang sangat populer di dunia Islam selama berabad-abad, sampai hari ini. Kitab ini juga menjadi bacaan utama di hampir seluruh pesantren di Nusantara.

Syekh Ibnu Atha’illah menghadirkan Kitab al-Hikam dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala arah yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya.

Kitab al-Hikam merupakan ciri khas pemikiran Ibnu Atha’illah, khususnya dalam paradigma tasawuf. Di antara para tokoh sufi yang lain seperti Al-Hallaj, Ibnul Arabi, Abu Husen An-Nuri, dan para tokoh sufisme falsafi yang lainnya, kedudukan pemikiran Ibnu Atha’illah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi. Tetapi diimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk, artinya di antara syari’at, tarikat dan hakikat ditempuh dengan cara metodis. Corak Pemikiran Ibnu Atha’illah dalam bidang tasawuf sangat berbeda dengan para tokoh sufi lainnya. Ia lebih menekankan nilai tasawuf pada ma’rifat.

Adapun pemikiran-pemikiran tarikat tersebut adalah: Pertama, tidak dianjurkan kepada para muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka. Dalam hal pandangannya mengenai pakaian, makanan, dan kendaraan yang layak dalam kehidupan yang sederhana akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah dan mengenal rahmat Illahi.

Kedua, tidak mengabaikan penerapan syari’at Islam. Ia adalah salah satu tokoh sufi yang menempuh jalur tasawuf hampir searah dengan Al-Ghazali, yakni suatu tasawuf yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Mengarah kepada asketisme, pelurusan dan penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs), serta pembinaan moral (akhlak), suatu nilai tasawuf yang dikenal cukup moderat

Ketiga, zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati selain daripada Tuhan. Dunia yang dibenci para sufi adalah dunia yang melengahkan dan memperbudak manusia. Kesenangan dunia adalah tingkah laku syahwat, berbagai keinginan yang tak kunjung habis, dan hawa nafsu yang tak kenal puas. "Semua itu hanyalah permainan (al-la’b) dan senda gurau (al-lahwu) yang akan melupakan Allah. Dunia semacam inilah yang dibenci kaum sufi," ujarnya.

Keempat, tidak ada halangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimiliknya. Seorang salik boleh mencari harta kekayaan, namun jangan sampai melalaikan-Nya dan jangan sampai menjadi hamba dunia. Seorang salik, kata Atha'illah, tidak bersedih ketika kehilangan harta benda dan tidak dimabuk kesenangan ketika mendapatkan harta.

Kelima, berusaha merespons apa yang sedang mengancam kehidupan umat, berusaha menjembatani antara kekeringan spiritual yang dialami orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi, dengan sikap pasif yang banyak dialami para salik.

Keenam, tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah. Bagi Syekh Atha'illah, tasawuf memiliki empat aspek penting yakni berakhlak dengan akhlak Allah SWT, senantiasa melakukan perintah-Nya, dapat menguasai hawa nafsunya serta berupaya selalu bersama dan berkekalan dengan-Nya secara sunguh-sungguh.

Ketujuh, dalam kaitannya dengan ma’rifat Al-Syadzili, ia berpendapat bahwa ma’rifat adalah salah satu tujuan dari tasawuf yang dapat diperoleh dengan dua jalan; mawahib, yaitu Tuhan memberikannya tanpa usaha dan Dia memilihnya sendiri orang-orang yang akan diberi anugerah tersebut; dan makasib, yaitu ma’rifat akan dapat diperoleh melalui usaha keras seseorang, melalui ar-riyadhah, dzikir, wudhu, puasa, salat sunnah dan amal saleh lainnya.


Riwayat pendidikan Syekh Ibnu ‘Athaillah

Beliau salah seorang ulama terkenal di abad ketujuh hijriah. Perjalanan keilmuannya dimulai dengan belajar fiqih, tafsir, hadits, bahasa dan sastra kepada para Syaikh di Mesir. Puncak dari perjalanan keilmuan ini dilalui dengan melakukan laku rohani mendidik diri dan usaha penyucian hati di bawah tempaan dua ulama yang besar. Dari keduanya Ibnu Athaillah menghimpun kaidah-kaidah ilmu syariah dan prinsip-prinsip penyucian hati dari segala bentuk penyakit hati yang beliau namakan “dosa batin”. Guru pertamanya adalah Syaikh Abu alAbbas al-Mursi Ahmad ibn Umar, seorang ulama yang terkenal dengan keluasan ilmunya yang dihiasi dengan ketakwaan dan kesalehan. Guru kedua adalah Syaikh Abu al-Hasan asy-Syadzili Ali ibn Abdullah yang merupakan rujukan pertama dalam tarekat Syadziliyah. Syaikh al-Mursi wafat pada tahun 686 H, sedangkan Syaikh Asy- Syadziliyah wafat pada tahun 656 H.

Nama Ibnu Athaillah bersinar sebagai salah seorang ulama syariah terkemuka. Syariah diejawantahkan dengan hakikat dan inti sarinya membebaskan manusia dari belenggu hawa nafsu. Inilah yang kemudian mengangkat manusia ke derajat kejujuran, kesempurnaan ridha dan kepercayaan, serta penyerahan diri kepada Allah. Beliau mengajarkan ilmu-ilmu syariah di Universitas al-Azhar. Berkat didikannya lahirlah ulama-ulama terkenal, seperti Imam Taqiyuddin asSubki dan Imam al-Qarafi.

Sejak awal, Ibnu Athaillah dipersiapkan untuk mempelajari pemikiran-pemikiran Imam Maliki. Ia punya guru-guru terbaik di semua disiplin ilmu hukum, seperti disiplin ilmu tata bahasa, hadis, tafsir al-Qur`an, ilmu hukum, teologi Asy`ariyah dan juga literature Arab pada umumnya dalam Madzab Maliki segera menyedot perhatian banyak orang terhadapnya dan tidak lama para tokoh terkenal itu sebagai seorang faqih (ahli hukum). Ia mengikuti salah satu dari sekolah-sekolah agama atau madrasah-madrasah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Ayyubiyah di Iskandaria untuk studi hukum. Ia mempelajari hukum, khususnya pada aspek-aspek madzhab Maliki.

Ketika beliau duduk memberi nasehat, wejangan dan tuntunan, kata-katanya menggugah hati. Kata-kata tersebut begitu membekas dalam hati. Kesaksian ini dinyatakan para ulama yang hidup di masanya dan para ulama yang hidup setelah mereka, meskipun berbeda aliran pemikiran dan guru.

Ada cerita yang sangat menarik mengapa Ibnu Athaillah beranjak memilih tasawuf. Suatu ketika Ibnu Athaillah mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya: “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi?”. Selama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang dia ajarkan sejatinya. Kalau memang dia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf. Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalahmasalah syara` tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Disini jelas semua bahwa ternyata al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Maka demikianlah, ketika diamencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin bertambah masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai dia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meninggalkan aktivitas yang lain.

Para ulama di sepanjang masa berlomba-lomba untuk menulis penjelasan kitab ini. Kitab ini berukuran tipis, namun memiliki dampak dan manfaat yang luar biasa. Mereka melakukan ini karena terdorong ingin mendapatkan keberkahan dan anugerah melalui kitab ini. Hal ini terutama setelah mereka meyakini bahwa banyak dari penuntut ilmu di Universitas al-Azhar, dilapangkan dan diangkat derajat hidupnya karena keberkahan kitab ini.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dari latar pendidikan Syekh Ibnu Athaillah yang mengawali pendidikannya di bidang fiqh lalu melanjutkan ke bidang tasawuf. Syekh Ibnu Athaillahmerupakan ulama yang mumpuni secara syariat dan hakikat dan juga dapat memadupadankan keduanya tanpa adanya dikotomi. Syekh Ibnu Athaillah juga mengalami proses yang amat panjang untuk menemukan suatu hakikat dengan menempuh beberapa suluk dan maqamat.

Beliau juga merupakan seorang ulama yang pakar dalam bidang ilmu gramatika bahasa arab namun demikian karya beliau mengenai gramatika bahasa arab senantiasa diwarnai oleh corak tasawuf. Sehingga dapat dikatakan proses pendidikan atau pencarian ilmu yang dilakukan oleh Syekh Ibnu Athaillah semuanya bermuara pada tasawuf atau makrifat kepada Allah.


Karya-karya syekh ibnu ‘Athaillah

Sebagai seorang guru tarekat, Ibnu Athaillah bukanlah guru tarekat biasa.

 Ia juga seorang intelek yang berkarya. Selain Kitab al-Hikam, ia juga menulis buku lain, Misalnya :

Kitab Al-Hikam

Kitab Miftahul-Falah wa Misbahul-Arwah fi Dzikrillah al-Karim

Kitab Al-Fathull-Muraqqi ilal-Qadir, 

Kitab `Unwanut-Taufiq fi Ada`it-Thariq 

Kitab Al-Qoulul-Mujarrad Fil-Ismil-Mufrad.

Ulama yang pernah berdebat dengan Ibnu Taimiyah ini tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 kitab yang ditulisnya. Beragam tema mulai dari tasawuf, tafsir, aqidah, hadits, nahwu dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu, kitab Al-Hikam lah yang paling terkenal. Puluhan ulama hebat telah men-syarahi (memberikan penjelasan yang rinci, memberikan catatan dan komentar agar para pembaca tidak keliru memahami dan menambah pengetahuan seputar pemahaman teks yang baik dan benar). Sebut saja misalnya Muhammad bin Ibrahim ibnu Ibad Ar-Rasyid-Rundi, Syekh Ahmad Zarruq, Ahmad Ibnu Ajiba, Abu Al-Wafa` Al-Ghanimi At-Taftazani, Syekh As-Syarqawi dan Syekh Shaleh Darat As-Samarani, hingga syarah terbaru dan paling tebal (empat jilid) karya Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi. 

Tidak banyak para pendahulu yang menulis dan mengulas sejarah pengarang kitab Al-Hikam yaitu Syekh Ibnu Athaillah Al-Askandary, para ahli waris juga sangat sulit untuk dilacak karena keberadaan penulis yang tidak memungkinkan melacaknya sampai negara asal atau tempat dimana beliau berkiprah. Namun sekilas gambaran yang sudah dipaparkan di atas itu penyusun kira bahwa sudah terwakili dari uraian-uraian biografi Syekh Ibnu Athaillah Al-Askandary dan juga karangan-karangan yang sudah disusun oleh beliau.


Rahasia Shalat Dalam Mencegah Perbuatan Keji Menurut Ibnu ‘Athaillah Dalam Kitabnya Tajul ‘Arus

Shalat secara etimologi bermakna “do’a”, adapun secara terminologi yaitu istilah atau ungkapan yang digunakan untuk suatu kegiatan dengan rukun-rukun yang khusus dan bacaan-bacaan (الذكر) yang telah diketahui dengan syarat-syarat yang di batasi pada waktu-waktu yang telah di tentukan.

Pendapat lain mengatakan makna shalat secara bahasa adalah التعظم (pengagungan), ini karena shalat yang terhimpun didalamnya ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan sejatinya adalah pengagungan dan pensucian kepada Allah. Sebagaimana kalimat الصلوت pada rangkaian bacaan duduk tasyahud dimana maknanya adalah seruan untuk mengagungkan Allah, hanya dialah yang berhak mendapatkan pengagungan itu.

Pengertian lain dikemukakan seorang tokoh leksikologi bahasa arab lainnya, yakni ahmad ibnu faris, beliau menjelaskan kata shalat berasal dari kata صلى yang bisa dimaknai dengan dua pemahaman. Pertama, bermakna membakar dan apapun yang serupa dengan suhu panas atau temperatur tinggi seperti ucapan صليت العود بالنار (aku membakar kayu dengan api), اصطيت بالنار (aku menghangatkan diri dengan api). Kedua , bermakna istilah untuk salaah satu jenis ibadah tertentu. Bisa berupa doa, sebagaimana hadits Nabi Saw. Bersabda: 

Yang artinya: jika salah satu dari kalian di undang ke jamuan makan, maka penuhilah undangan tersebut, jika dalam keadaan tidak berpuasa, santaplah makanannya, jika dalam keadaan berpuasa, maka doakan lah orang yang mengundangmu. 

Dalam bukunya Tajul ‘Arus, Ibnu ‘Athaillah menuturkan sebuah hikayat. Dimana “syekh Al-Ahsan Al-Syadzili r.a didatangi seorang fukaha dari kota iskandariyah. Mereka datang bertujuan untuk menguji syekh. Beliau mencermatai mereka semua, lalu bertanya: wahai fakih, apakah kamu menunaikan shalat?” mereka menjawab:, ya, syekh. Mungkinkah di antara kami ada yang tidak shalat? “syekh menegaskan. “Allah berfirman “Manusia di ciptakan dalam keadaan berkeluh kesah. Kalau di timpa musibah ia gelisah dan kalau mendapat kebaikan ia kikir, kecuali orang-orang yang shalat. (Q.S al-Ma’arij [70]: 19-20). Nah apakah keadaan kalian seperti itu? Jika mendapat musibah kalian tidak gelisah, dan kalau mendapat kenikmatan kalian tidak kikir? Mereka terdiam. Lalu beliau melanjutkan, kalau begitu kalian belum shalat”.

Kisah diatas menegaskan dan menjelaskan pada kita bahwasanya manfaat sholat itu selain mencegah perbuatan keji dan mungkar, shalat juga menjadi obat hati agar seseorang yang shalat itu tidak gelisah dan resah. Serta menjadi seorang hamba yang selalu ridha pada Allah. Karena sesungguhnya hati orang yang shalat itu selalu terhubung kepada Allah. Dia tidak akan meminta kepada selain dia dan tidak takut kepada selain dia serta hamba ini akan selalu memuji Allah dalam keadaan apapun baik senang maupun susah. Innalillahi wainnailaihi rojiun adalah ucapannya jika mendapat musibah. Menyerahkan semua urusannya pada Allah. Apabila Allah anugerahkan nikmat pada hamba-hamba yang shalat ini, maka ia akan berikan atau berbagi pada kaum fakir dan miskin. ini semua di lakukan demi mencapai ridha Allah swt.

Shalat dikatakan sebagai tempat munajat, yang mana dalam shalatnya sang hamba bermunajat pada Allah swt melalui bacaan Alquran dan zikirnya. Al Bukhari dalam salah satu Hadist yang diriwayatakannya menyebutkan “ orang yang shalat sebenaranya sangat bermunajaat pada Tuhan”. Salah satu contoh munajat hamba pada Tuhannya ada dalam bacaan Al fatihah yang berisikan penuh dengan permohonan dan munajat hamba pada Tuhannya. Selain tempat munajat, shalat merupakan wahana penyucian hati. Maksudnya, shalat bisa membersihkan ruh dari gambaan makhluk serta membersihkan munajat dari perasaan campur aduk dan bisikan kotor. Maksud istilah ini menggambarkan permintaan hamba dalam shalat supaya Allah mengampuni segala salah dan dosanya dengan melakukan taubatan nasuha. Dengan demikian, Allah akan mengabulkan permintaannya, dan mengampuninya. Medan rahasia dari ibadah shalat lainnya adalah turun melimpahi hati ketika seseorang mendirikan shalat sangatlah luas, begitu kilau cahaya Ilahi yang bersinar di dalamnya, yang mengalir ke seluruh tubuh lalu bercampur dengan ruhnya.

Rahasia shalat berikutnya adalah dimana Allah mengetahui kelemahanmu, lalu menyedikitkan bilangannya. Kisah ini dapat kita lihat apda masa awal perintah shalat diterima Rsaulullah, dimana awalnya lima puluh waktu menjadi lima waktu. Namun Allah juga mengetahui kebutuhanmu terhadap karuniaNya, maka Allah melipatgandakan pahalanya, ibadah shalat yang hanya lima kali sehari semalam dilipatgandakan Allah pahalanya. Satu kali shalat Allah balas sepuluh kali lipat pahalanya. Sehingga umat akhir zaman ini mendapat karunia yang begitu besar dari pelaksanaan lima kali shalat sehari semalam dengan pahala lima puluh jika dikerjakan secara sendiri. Bagaiamana pula jika dikerjakan secara berjamaah, otomatis pahala ini akan lebih besar. Inilah karuni Allah yang sangat besar pada hambanya. Perbuatan sedikit, namun Allah beri ganjaran yang begitu besar. Namun, hal yang perlu diingat juga, bahwa shalat tersebut bukanlah shalat sembarangan. Rahasia shalat ini akan kita rasakan bila kita shalat dengan menghadirkan hati. Karena seorang hamba yang shalat tanpa turut menghadirkan hati kehadirat Ilahi, maka shalat yang dikerjakannya adalah shalat kosong. Tak ayal kita lihat, selesai shalat orang terebust langsung bangkit dari shalatnya dan kembali sibuk dengan urusan dunia bahkan ada yang kembali pada perbutan perbutan dosa. Ia tidak mampu mengelakkan dirnya dari perbuatan keji dan mungkar. Ini akibat dari ibadah shalat yang tiada membekas dalam dirnya. Ia shalat hanya ceremonila belaka, tanpa tahu siapa sebenarnya yang dituju dalam shalatnya. Tanpa memahami hakikat shalat yang ia kerjakan, tanpa mengetahui dan memahami rasa di dalam ibadah shalat yang dilaksanakan. Sehingga orang ini tetap mengekali perbuatan keji dan mungkar. Perbuatan keji adalah sesuatu yang dilarang Allah sedangkan perbuatan mungkar adalah perbuatan yang juga di larang oleh agama dan mungkar belum mampu ditinggalkan, akibat dari shalat hanya sebatas rutinatis badaniah saja. Semoga kita termasuk dalam orang orang yang mampu memaknai ibadah shalat dan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.

Shalat merupakan ibadah yang istimewa dalam agama Islam, baik dilihat dari perintah yang diterima oleh Nabi Muhammad secara langsung dari Tuhan maupun dimensi-dimensi yang lain. Menurut Ash-Shiddieqy (1983) seluruh fardhu dan ibadah selain shalat diperintahkan oleh Allah SWT kepada Jibril untuk disampaikan kepada Muhammad. Hanya perintah shalat ini Jibril diperintahkan menjemput Muhammad untuk menghadap Allah. Sebagai ibadah utama, maka mustahil jika shalat tidak memberikan pahala atau ganjaran yang besar bagi yang melaksanakannya. Begitu pula, mustahil jika shalat bukan energi yang luar biasa, baik energi spiritual atau ruhaniyah, maupun energi jasmaniah.

Perintah untuk mengerjakan shalat, tidak terbatas pada keadaan tertentu, seperti pada waktu badan sehat saja, situasi aman, tidak sedang bepergian dan sebagainya, melainkan dalam keadaan bagaimanapun orang tetap dituntut untuk mengerjakannya. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah [2] : 238.

حفظواعلى الصلوت والصلوةالوسطى وقوموالله قنتين : 238

Peliharahlah semua shalat(mu), dan peliharahlah shalat wustha [152]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. QS. Al-Baqarah[2] : 238


Manfaat beberapa gerakan dalam shalat bagi tubuh

Adapun beberapa manfaat gerakan dalam shalat yaitu:

Gerakan takbiratul ihram: Gerakan ini akan membantu memperlancar aliran darah getah bening dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung yang berada di bawah otak memungkinkan mengalir lancer ke seluruh tubuh.

Gerakan ruku’: Gerakan ini dapat menjaga kesempurnaan posisidan fungsi tulang belakang sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf manusia. Disamping itu, gerakan ini dapat memperlancar sirkulasi darah dari jantung ke seluruh tubuh, terutama ke otak/kepala sebagai pusat susunan syaraf, tangan yang bertumpu di lutut berfungsi sebagai relaksasi otot-otot bahu hingga kebawah.

Gerakan I’tidal: Manfaat dari gerakan ini yaitu :

I'tidal adalah pola gerakan sikap tubuh setelah rukuk dan sebelum sujud yang menjadi latihan yang baik untuk pencernaan. Dengan bergantian akan rilekskan organ pencernaan perut, yang berefek pencernaan menjadi lancar.

Saat Saat berdiri dari rukuk dengan mengangkat tangan, darah dari kepala akan turun ke bawah, sehingga bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Hal ini dapat menjaga saraf keseimbangan tubuh dan berguna mencegah pingsan secara tiba-tiba.

Di samping itu, i'tidal memperlancar sirkulasi darah dan membantu menarik nafas yang dalam lalu diikuti mengeluarkan nafas tersebut dari arah yang berlawanan dengan kuat. Diafragma sekat rongga badan antara dada dan perut kembali dalam posisi lebih tinggi. Rongga perut tertekan ke tempat yang lebih rendah. Dada lebih tinggi dari desakan udara, sehingga mengurangi terpancarnya darah yang menuju ke dada. Aliran darah yang ada pada kedua kaki mempunyai kesempatan leluasa untuk berjalan cepat menuju yang sedang lunak menerima aliran darah dari kedua kaki.

Gerakan sujud: Membengkokkan kedua lutut bermanfaat mencegah terjadinya kejang pada kedua lutut. Membengkokkan badan ke depan dan meletakkan dahi pada tanah merupakan gerakan yang paling bermanfaat dalam proses pemijatan terhadap perut dan perangkat pencernaan, sehingga membantu proses pencernaan. Posisi sujud ini juga sangat bermanfaat bagi kaum ibu karena gerakan ini menempatkan rahim pada posisinya yang alami dan mencegah terjadinya kerusakan dan kelainan. Apabila diperhatikan dengan seksama shalatmerupakan olaharaga keagamaan yang diwajibkan atas setiap muslim lima kali dalam sehari semalam, yang dapat membantu menguatkan otot dan persendian. Hasil penelitian seorang dokter mengatakan ada salah satu syaraf dalam kepala tidak bisa masuk oksigen kedalamnya kecuali dalam posisi sujud.

Duduk diantara dua sujud: Duduk setelah sujud terbagi menjadi dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaannya terletak pada posisi telapak kaki. Pada saat melakukan iftirosy, tubuh bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan saraf nervus Ischiadius. Posisi ini dapat menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan, Sedangkan saat melakukan duduk tawarruk, tumit menekan saluran kandung kemih (uretra), kelenjar kelamin pria (prostat), dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, posisi ini dapat mencegah impotensi sehingga memiliki manfaat yang sangat baik bagi pria . Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian rileks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

Gerakan salam: Gerakan ini adalah menolehkan kepala kita ke arah kanan dan juga ke arah kiri. Sehingga urat leher menjadi tertarik dan ketika itu terjadi kelenturan dari urat leher. Gerakan ini dapat terjaga dan juga dapat merelaksasikan otot-otot di sekitar leher dan kepala, serta melancarkan aliran darah di kepala. Selain itu menolehkan kepala dalam gerakan sholat ini juga dapat mencegah gangguan pada saraf karena otot pada tulang leher yang tegang, mencegah sakit kepala, dan dapat membuat kulit wajah jadi lebih kencang.


Ayat-ayat tentang Shalat

 Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang shalat yaitu:

Surat Al-Baqarah ayat 43

وَاَقِيْمُوا اصَّلوةَ وَاَتُوا ازَّكَوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ لرَّكِعِيْنَ 43

Artinya: Tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.

Surat Al-Baqarah ayat 45

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ ٤٥

Artinya: Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya (Shalat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

Surat Al-Baqarah Ayat 110

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ ۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ١١٠

Artinya: "Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu akan kamu dapatkan (pahalanya) di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Surat An-Nisa Ayat 103

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا ١٠٣

Artinya: Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring.

Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah salat itu (dengan sempurna). Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.

Surat Hud Ayat 114

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ ١١٤

Artinya: Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).

Surat Al-Isra Ayat 78

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا 78

Artinya: Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

Surat Ar-Rum Ayat 17-18

 فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُون وَلَهُ ٱلْحَمْدُ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ

Artinya: Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh.

Dan bagi-Nya-lah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.

Surat Az-Zariyat Ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ 56

Artinya: Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

Surat Al-Bayyinah ayat 5

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Artinya: Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

Surat Al-Hajj Ayat 78

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖۗ هُوَ اجْتَبٰىكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَۗ هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ەۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِۖ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗهُوَ مَوْلٰىكُمْۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ࣖ ۔

Artinya: Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah salat; tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.



PENUTUP

 Syekh Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah as Sakandari, lahir di Iskandaria pada 648 H dan meninggal di Kairo pada 1309 M, adalah salah satu ulama terkemuka yang menelusuri ilmu dari dua ulama besar pada masanya, yaitu Syaikh Abu al-Abbas al-Mursi dan Syaikh Abu al-Hasan asy-Syadzili. Dikenal sebagai tokoh tasawuf yang menggabungkan pemahaman syariat dan hakikat, karya utamanya, Kitab al-Hikam, telah menjadi panduan spiritual bagi banyak orang selama berabad-abad. Melalui karyanya, beliau menghadirkan tasawuf dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, menjadikannya sebagai penerang bagi setiap salik. Selain al-Hikam, Ibnu Atha’illah juga menulis beberapa karya lainnya seperti Kitab Miftahul-Falah wa Misbahul-Arwah fi Dzikrillah al-Karim, Kitab Al-Fathull-Muraqqi ilal-Qadir, Kitab unwanut-Taufiq fi Adait-Thariq, dan Kitab Al-Qoulul-Mujarrad Fil-Ismil-Mufrad. Sebagai seorang ulama yang produktif, Ibnu Atha’illah tidak hanya menghasilkan karya-karya dalam bidang tasawuf, tetapi juga dalam bidang-bidang lain seperti tafsir, aqidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Karyanya yang paling terkenal, Kitab al-Hikam, telah menjadi subjek penjelasan dan penelitian oleh banyak ulama dari berbagai generasi, menunjukkan pengaruh dan keberkahan dari karya tersebut. Dengan kesederhanaan dan keteguhan dalam menjalani ajaran tasawufnya, Ibnu Atha’illah menjadi teladan bagi banyak orang yang mencari jalan menuju Tuhan, mengajarkan bahwa kesucian hati dapat dicapai dengan memadukan ilmu syariat dan hakikat.

 Shalat memiliki makna mendalam dalam agama Islam, bermakna "doa" secara etimologi, namun sebagai suatu ibadah, shalat memiliki rukun-rukun khusus dan bacaan-bacaan yang ditentukan, dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Pandangan tentang makna shalat beragam, termasuk pengagungan kepada Allah, serta asal kata "shalat" yang bisa bermakna membakar dan sebagai istilah untuk ibadah tertentu. Manfaat shalat tidak hanya terbatas pada mencegah perbuatan keji dan mungkar, tetapi juga sebagai obat bagi hati agar tidak gelisah dan resah, serta wadah munajat pada Allah. Gerakan-gerakan dalam shalat juga memiliki manfaat bagi tubuh, seperti melancarkan aliran darah dan menjaga kesehatan tulang belakang. Al-Qur'an menegaskan pentingnya shalat dalam beberapa ayat, mengenai kewajiban untuk menunaikan shalat, manfaatnya bagi orang yang khusyuk, dan pentingnya menjaga waktu-waktu shalat. Dengan demikian, shalat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga ibadah istimewa yang membawa manfaat spiritual dan kesehatan bagi tubuh, serta merupakan wujud pengabdian dan pengagungan kepada Allah yang Maha Esa.


DAFTAR PUSTAKA

Elimartati. “Tinjuan dari berbagai aspek tentang rahasia pelaksanaan sholat (Studi Hukum Islam, Biologi, dan Fisika). PROCEEDING IAIN Batusangkar 1.1 (2017): 231-244

Hayati, Anisa Maya Umri. “Shalat sebagai sarana pemecah masalah kesehatan mental (Psikologis)” Spritualita 4.2 (2020) hal. 2-3

https://repository.uinbanten.ac.id

Hilman, Irawan. “SHALAT DALAM AL-QUR’AN” (Genealogi Syariat Shalat Dalam Islam Perspektif Pafsir Tematik Pra dan Pasca Quranik). Dss. Institut PTIQ Jakarta, 2022.

Jannah, F. & Harahap, N. R. (2023). Rahasia shalat dalam mencegah perbuatan keji perspektif Syekh Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Tajul ‘Arus. At-Turots: Jurnal pendidikan islam, 403-412

Jumini, S & Munawaroh, C. (2018). Analisis vector dalam gerakan shalat terhadap kesehatan. SPEKTAR: Jurnal Kajian Pendidikan Sains 4.2:123-134.

Muhtarom, Al. Penerjemahan Komunikatif Muhammad Farid Wajdi Dalam Terjemahan Kitab Al-Hikam Karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari. BS thesis. Fakultas Adab & Humaaniora, 2017. Hal. 36-40 

Ma’ruf, Yuanita. “Manfaat shalat terhadap kesehatan mental dalam Al-Qur’an. “Skripsi-Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta(2015)

Pratami, Aniqoh Zahra Putri, Muhammad Fikri Wardhana, and Siti Fadhila Humaira Asse. “Pengaruh gerakan Sholat terhadap kesehatan mental dan jasmani. “Islamic Education 1.4 (2023): 94-107.

Qur’an Kemenag. (2022) Al-Qur’an Kemenag. Diakses 1 Mei 2024. https://quran.kemenag.go.id

Shalehah, A. M., Nabillah, A., Salsabila, G., Fajar, M., Rahmawati, M., & Zhilfani, R. A. (2023). Pengaruh sholat pada system peredaran darah manusia. Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 1(2), 100-114

Ulum, Miftahul. “Mengungkap rahasia kedahsyatan gerakan sholat bagi kesehatan tubuh.” Excelencia: Jurnal Of Islamic Education & Management 3.01 (2023): 77-89

Komentar